
Bumi Laskar pelangi
Selama di Belitong, Andrea tak setiap saat menyaksikan syuting. Kalaupun menonton, dia berada agak jauh. Kadang berbaur dengan masyrakat. “Saya sebenarnya sudah berusaha menghindar agar tak bertemu Riri dan Mira. Kalau ketahuan saja, saya baru mendekat. Rasanya nggak enak kalau saya ikut mengawasi syuting. Biar mereka berkreasi tanpa ada bayang-bayang saya,” tutur Andrea.
Lantas, puaskah Andrea melihat hasil kerja Riri dan Mira? Pengarang tetralogi Laskar Pelangi itu mengaku puas dan kagum dengan anak-anak Laskar Pelangi yang walaupun belum berpengalaman, tapi mampu menciptakan karakter seperti dalam setiap tokoh yang ditulisnya. Diluar itu, Andrea berharap film ini mampu mempromosikan Belitong. “Dari novel, orang-orang kenal Belitong. Tapi saya yakin itu hanya menjangkau segelintir orang. Berbeda ketika novel ini diangkat dalam film, pasti akan lebih banyak orang menonton,” ucapnya.
Bagaimana dengan ketidakrelaan penggemar novel Laskar Pelangi terhadap pembuatan film ini? “Saya terinspirasi Mohammad Ali. Meskipun berkulit hitam, dia bangga dengan dirinya. Begitu juga saya, bagaimanapun Belitong adalah kampung halaman saya, dan saya cinta Belitong. Saya bertekad memajukan Belitong,” ungkap Andrea. Itulah mengapa Andrea ngotot mempertahankan lokasi syuting dilaksanakan di kampung Gantong, sesuai cerita asli yang ditulisnya. “Saya ditawari beberapa daerah lain, dan disogok hingga ratusan juta. Tapi saya nggak mau. Mereka tahu film ini bakal mendunia. Saya ingin mempromosikan Belitong,” ucap Andrea.
Selain itu Andrea juga ingin mewujudkan Belitong sebagai “Bumi Laskar Pelangi”. “Saat ini saya tengah menggodok konsepnya. Yang pasti kita akan menonjolkan potensi pariwisata,” terang Andrea. Bahkan muncul wacana di kalangan pemerintah Belitong Timur yang ingin menjadikan SD Muhammadiyah sisa syuting menjadi objek wisata sastra di Gantong. Sayang selama syuting di Gantong, ada satu hal yang membuat Andrea tidak bahagia. Apa itu? “Ternyata keinginan menjadikan Belitong sebagai Bumi Laskar Pelangi tak direspon dengan tindakan nyata. Seharusnya memanfaatkan lokasi syuting menjadi lahan industri seperti di luar negeri,” sesal Andrea.
—–
Sumber : Nyata, Juni 2008